Kamis, 19 Maret 2015

PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP DAN DAMPAKNYA



MAKALAH
PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP DAN DAMPAKNYA

Mata Kuliah                : Ilmu Alamiah Dasar
Dosen Pengampu        : Drs. Abu Bakar, M.Pd

Disusun oleh:
Kelompok 7
1.      Herti Gustina              A1B112005
2.      Apriani All Sten          A1B112049
3.      Rengga                        A1B111017
Semester/Kelas            : III/A


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
   2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT. atas rahmat dan hiyadat yang telah Ia berikan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Kemudian ucapan terima kasih kami haturkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, baik berupa sarana dan prasarana maupun berupa ide-ide atau gagasan-gagasan sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Makalah ini dibuat dalam rangka melengkapi tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar sebagai bahan diskusi mengenai Pencemaran Lingkungan Hidup dan Dampaknya. Selain itu pengetahuan tentang pencemaran lingkungan serta dampaknya amatlah penting untuk kita ketahui sebagai acuan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kesalahan dan kekurangan kami mohon maaf. Kritik maupun saran kami buka demi perbaikan makalah ini untuk selanjutnya.
Atas perhatiannya kami haturkan ungkapan terima kasih.

_, November 2013
Penyusun

Kelompok 


Text Box: i
 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................. 1
1.1  Latar Belakang......................................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah.................................................................................................... 1
1.3  Manfaat dan Tujuan................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................. 3
2.1  Pencemaran Lingkungan Hidup.............................................................................. 3
2.2  Jenis-Jenis Pencemaran Lingkungan Hidup............................................................. 4
2.3  Dampak Pencemaran Lingkungan Hidup terhadap Kehidupan Manusia................ 10
BAB III PENUTUP....................................................................................................... 12
3.1  Kesimpulan.............................................................................................................. 12
3.2  Saran........................................................................................................................ 12
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................... 13


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Lingkungan hidup merupakan tempat dimana manusia dan makhluk hidup lainnya melangsungkan kehidupannya. Udara, air, maupun tanah ialah unsur terpenting bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan adanya unsur-unsur tersebut makhluk hidup dapat membangun kehidupannya. Apa jadinya makhluk hidup yang ada di muka bumi ini jika udara, tanah maupun air tercemar oleh zat-zat berbahaya. Semua yang ada di muka bumi ini akan rusak apabila lingkungan hidup telah tercemar.
Ada banyak hal yang dapat membuat lingkungan hidup tercemar. Udara misalnya, terjadinya polusi udara akibat asap-asap dari pabrik atau sisa pembakaran yang tidak sempurna oleh mesin-mesin kendaraan yang menghasilkan gas CO yang dapat merusak udara di sekitar tempat tersebut. Udara tersebut kemudian kita hirup yang akibatnya dapat merusak organ tubuh manusia misalnya paru-paru. Atau pencemaran tanah misalnya dengan penggunaan pestisida yang dapat merusak tanah. Pencemaran air oleh limbah-limbah pabrik dan lain sebagainya.
Pencemaran memang tidak bisa kita hentikan, akantetapi kita dapat mencegah terjadinya pencemaran di sekitar kita. Pencemaran yang terjadi tidak hanya dapat merugikan manusia, tetapi juga merugikan makhluk-makhluk yang ada di bumi ini. Apa jadinya bila seluruh bumi telah tercemar oleh zat-zat yang berbahaya bagi kehidupan. Untuk itu kita wajib menjaga lingkungan hidup agar tidak tercemar.

1.2  Rumusan Masalah
Agar tidak terjadi penyimpangan ataupun kerancuan terhadap makalah ini, maka penulis memberi batasan terhadap pembahasan dengan ruang lingkup berkisar judul yang tertera dalam makalah ini. Adapun rumusan makalah yang menjadi batasan dalam pembahasan makalah ini di antaranya:
1.      Pencemaran lingkungan hidup;
2.      Jenis-jenis pencemaran lingkungan hidup;
3.      Dampak pencemaran lingkungan hidup terhadap kehidupan manusia.

1.3  Manfaat dan Tujuan Penulisan
Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat dan wawasan kepada pembaca maupun penulis tentang materi yang terdapat di dalamnya. Materi dalam makalah ini hendaklah dapat menumbuhkan kesadaran agar lingkungan hidup harus terus dijaga.
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu agar baik pembaca maupun penulis dapat mengetahui mengenai pencemaran lingkungan hidup, jenis-jenis serta dampak yang ditimbulkannya sehingga diharapkan mampu untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan hidup supaya tetap terjaga keasriannya.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1  Pencemaran Lingkungan Hidup
Lingkungan hidup adalah sistem yang merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dengan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupannya dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Makhluk hidup merupakan pihak yang selalu menggunakan dan memanfaatkan lingkungan hidupnya, baik dalam hal respirasi, pemenuhan kebutuhan pangan, papan dan lain-lain. Dalam hal ini manusia adalah makhluk yang paling mampu untuk mengelola dan memanfaatkan lingkungan hidup bagi kebutuhan hidupnya.
Di alam terdapat berbagai sumber daya alam yang merupakan komponen lingkungan yang sifatnya berbeda-beda, dimana dapat digolongkan atas:
-          Sumber daya alam yang dapat diperbaharui (renewable natural resources)
-          Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui (non-renewable natural resources)
Berbagai sumber daya alam yang mempunyai sifat dan perilaku yang beragam tersebut saling berinteraksi dalam bentuk yang berbeda-beda pula. Sesuai dengan kepentingannya maka sumber daya alam dapat dibagi atas:
-          Fisiokimia seperti air, udara, tanah, dan sebagainya,
-          Biologi, seperti fauna, flora, habitat, dan sebagainya, dan
-          Sosial ekonomi seperti pendapatan, kesehatan, adat-istiadat, agama, dan lain-lain.
Interaksi dari elemen lingkungan yaitu antara yang tergolong hayati dan non-hayati akan menentukan kelangsungan siklus ekosistem yang di dalamnya didapati proses pergerakan energi dan hara (material) dalam suatu sistem yang menandai adanya habitat, proses adaptasi dan evolusi. Dalam memanipulasi lingkungan hidupnya, maka manusia harus mampu mengenali sifat lingkungan hidup yang ditentukan oleh macam-macam faktor. Berkaitan dengan pernyataan ini, sifat lingkungan hidup dikategorikan atas dasar:
-          Jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut,
-          Hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup tersebut,
-          Kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup, dan
-          Faktor-faktor non-materil, seperti cahaya dan kebisingan.
Inti dari permasalahan lingkungan hidup adalah hubungan makhluk hidup, khususnya manusia dengan lingkungan hidupnya. Ilmu tentang hubungan timbal balik makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya disebut ekologi. Pencemaran lingkungan merupakan kerusakan lingkungan hidup akibat masuknya zat-zat yang dapat membahayakan lingkungan hidup. Zat-zat tersebut muncul tidak lain karena kegiatan-kegiatan yang dilakukan makhluk hidup dalam berbagai aktifitasnya,terutama oleh manusia yang merupakan pengelola lingkungan hidup.
Di era saat ini, pencemaran lingkungan hidup harus mendapat perhatian yang serius. Meningkatnya kegiatan industri dan perkembangan teknologi yang canggih telah banyak mengganggu dan merusak lingkungan hidup. Pertambangan misalnya telah banyak mengganggu ekosistem lingkungan hidup dengan kegiatan penebangan pohon dan kebisingan alat-alat pertambangan yang digunakan. Munculnya berbagai macam bahan kimia yang dipergunakan melebihi kadar yang dibutuhkan sehingga lingkungan hidup menjadi rusak. Misalnya penggunaan pestisida yang menyebabkan berkurangnya zat hara pada tanah sehingga tanah menjadi tidak subur.
Plastik-plastik yang banyak kita temukan juga merupakan penyebab terjadinya pencemaran lingkungan hidup. Tanpa adanya daur ulang plastik-plastik tersebut hanyalah menjadi sampah yang tidak dapat terurai sehingga mencemari lingkungan hidup. Atau samaph-sampah tersebut kita bakar yang tanpa kita sadari asap-asap pembakaran tersebut dapat merusak lapisan ozon yang menyebabkan pemanasan global. Pencemaran lingkungan merupakan bencana bagi makhluk yang ada di muka bumi.

2.2  Jenis-Jenis Pencemaran Lingkungan
Adapun  jenis-jenis pencemaran lingkungan, antara lain:
1.      Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah kondisi udara yang tercemar dengan adanya bahan, zat-zat asing atau komponen lain di udara yang menyebabkan berubahnya tatanan udara oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.
Jenis-jenis pencemaran udara:
a.       Menurut bentuk: Gas, Pertikel
Bahan atau zat pencemaran udara dapat berbentuk gas dan partikel. Pencemaran udara berbentuk gas dapat dibedakan menjadi:
·         Golongan belerang terdiri dari Sulfur Dioksida (SO2), Hidrogen Sulfida (H2S) dan  Sulfat Aerosol.
·         Golongan Nitrogen terdiri dari Nitrogen Oksida (N2O), Nitrogen Monoksida (NO), Amoniak(NH3) dan Nitrogen Dioksida (NO2).
·         Golongan Karbon terdiri dari Karbon Dioksida (CO2), Karbon Monoksida (CO),  Hidrokarbon.
·         Golongan gas yang berbahaya terdiri dari Benzen, Vinyl Klorida, air raksa uap.
Pencemaran udara berbentuk partikel dibedakan menjadi:
·         Mineral (anorganik) dapat berupa racun seperti air raksa dan timah.
·         Bahan organik terdiri dari ikatan hidrokarbon, klorinasi alkan, Benzen.
·         Makhluk hidup terdiri dari bakteri, virus, telur cacing.
b.      Menurut tempat: Ruangan (indoor), udara bebas (outdoor)
Pencemaran udara menurut tempat dan sumbernya dibedakan menjadi dua:
-          Pencemaran udara bebas (Out door air pollution), sumber pencemaran udara bebas:
·         Alamiah, berasal dari letusan gunung berapi, pembusukan, dan lain-lain.
·         Kegiatan manusia, misalnya berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, asap kendaraan, dan lain-lain.
-          Pencemaran udara ruangan (In door air pollution), berupa pencemaran udara di dalam ruangan yang berasal dari pemukiman, perkantoran ataupun gedung tinggi.

c.       Gangguan kesehatan:  Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis
Pencemaran udara berdasarkan pengaruhnya terhadap gangguan kesehatan dibedakan menjadi 3 jenis:
·         Irintasia. Biasanya polutan ini bersifat korosif. Merangsang proses peradangan hanya pada saluran pernapasan bagian atas, yaitu saluran pernapasan mulai dari hidung hingga tenggorokkan. Misalnya Sulfur Dioksida, Sulfur Trioksida, Amoniak, debu. Iritasi terjadi pada saluran pernapasan bagian atas dan juga dapat mengenai paru-paru sendiri.
·         Asfiksia. Disebabkan oleh berkurangnya kemampuan tubuh dalam menangkap Oksigen atau mengakibatkan kadar O2 menjadi berkurang. Keracunan gas Karbon Monoksida mengakibatkan CO akan mengikat hemoglobin sehingga kemampuan hemoglobin mengikat O2 berkurang terjadilah Asfiksia. Yang termasuk golongan ini adalah gas Nitrogen, Oksida, Metan, Gas Hidrogen dan Helium.
·         Anestesia.  Bersifat menekan susunan syaraf pusat sehingga kehilangan kesadaran, misalnya aeter, aetilene, propane dan alkohol alifatis.
·         Toksis.  Titik tangkap terjadinya berbagai jenis, yaitu:
-          Menimbulkan gangguan pada sistem pembuatan darah, mi-salnya benzene, fenol, toluen dan xylene.
-          Keracunan terhadap susunan syaraf, misalnya  karbon disulfid, metil alkohol.
d.      Menurut asal: Primer, sekunder
Pencemaran udara dapat pula dikelompokkan ke dalam:
·         Pencemar primer. Polutan yang bentuk dan komposisinya sama dengan ketika dipancarkan, lazim disebut sebagai pencemar primer, antara lain CO, CO2, hidrokarbon, SO, Nitrogen Oksida, Ozon serta berbagai partikel.
·         Pencemar Sekunder.  Berbagai bahan pencemar kadangkala bereaksi satu sama lain menghasilkan jenis pencemar baru, yang justru lebih membahayakan kehidupan. Reaksi ini dapat terjadi secara otomatis ataupun dengan cara bantuan katalisator, seperti sinar matahari. Pencemar hasil reaksi disebut sebagai pencemar sekunder. Contoh pencemar sekunder adalah Ozon, formal dehida,  dan Peroxy Acyl Nitrate (PAN).
2.      Pencemaran Air
Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia. Apabila air telah tercemar maka kehidupan manusia terganggu. Ini merupakan bencana besar. Hampir semua mahluk hidup di muka bumi ini memerlukan air. Apabila air sudah tercemar, maka dapat menyebabkan kerugian bagi umat manusia.
Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan darat, seperti danau dan sungai, serta perairan laut. Sumber pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri, pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak.
Limbah rumah tangga seperti deterjen, sampah organik, dan anorganik memberikan andil cukup besar dalam pencemaran air sungai, terutama di daerah perkotaan. Sungai yang tercemar deterjen, sampah organik dan anorganik yang mengandung miikroorganisme dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi masyarakat yang mengunakan sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari.
Proses penguraian sampah dan deterjen memerlukan oksigen sehingga kadar oksigen dalam air dapat berkurang. Jika kadar oskigen suatu perairaan turun sampai kurang dari 5 mg per liter, maka kehidupan biota air seperti ikan terancam.
Selain itu, masuknya pupuk pertanian, sampah, dan kotoran ke bendungan, danau, serta laut dapat menyebabkan meningkatnya zat-zat hara di perairan. Peningkatan tersebut mengakibatkan pertumbuhan ganggang atau enceng gondok menjadi pesat (blooming).
3.      Pencemaran Tanah
Sebagaimana udara dan air, tanah merupakan komponen penting dalam hidup kita. Tanah berperan penting dalam pertumbuhan mahluk hidup, memelihara ekosistem, dan memelihara siklus air. Kasus pencemaran tanah terutama disebabkan oleh pembuangan sampah yang tidak memenuhi syarat (ilegal dumping), kebocoran limbah cair dari industri atau fasilitas komersial, atau kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah, yang kemudian tumpah ke permukaan tanah.
Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.
Pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan.
a.       Limbah rumah tangga
Limbah rumah tangga terpenting adalah sampah. Sampah dalam jumlah banyak seperti di kota-kota besar, berperan besar dalam pencemaran tanah, air, dan udara. Tanah yang mengandung sampah diatasnya akan menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme penyebab penyakit.
Pencemaran oleh mikroorganisme dan polutan lainnya dari sampah akan mengurangi kualitas air tanah. Air tanah yang menurun kualitasnya dapat terlihat dari perubahan fisiknya, misalnya bau, warna, dan rasa, bahkan terdapat lapisan minyak. Beberapa jenis sampah, seperti plastik dan logam sulit terurai sehingga berpengaruh pada kemampuan tanah menyerap air.
b.      Limbah pertanian
Dalam kegiatan pertanian, penggunaan pupuk buatan, zat kimia pemberantas hama (pestisida), dan pemberantas tumbuhan pengganggu (herbisida) dapat mencemari tanah, dan air.
4.      Pencemaran Daratan
Pencemaran daratan pada umumnya berasal dari limbah berbentuk padat yang dibuang atau dikumpulkan disuatu tempat penampungan. Tempat pengumpulan limbah padat ini dapat bersifat sementara atau tetap.
5.         Pencemaran Suara
Bunyi atau suara adalah kompresi mekanikal atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium atau zat perantara ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Kebanyakan suara adalah merupakan gabungan berbagai sinyal, tetapi suara murni secara teoritis dapat dijelaskan dengan kecepatan osilasi atau frekuensi yang diukur dalam Hertz (Hz) dan amplitudo atau kenyaringan bunyi dengan pengukuran dalam desibel. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia kira-kira dari 20 Hz sampai 20 kHz pada amplitudo umum dengan berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya. Pencemaran suara diakibatkan suara-suara bervolume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan. Tingkat kebisingan terjadi bila intensitas bunyi melampui 70 desibel (dB).
Dalam pencemaran suara, kebisingan yang dialami sehari-hari tanpa sadar merupakan faktor utama terjadinya pencemaran suara. Apalagi pada era modern seperti sekarang ini banyak sekali alat-alat yang menggunakan mesin yang berbunyi bising serta penggunaan gadget yang bisa memutar bunyi dengan earphone yang suaranya langsung mengenai gendang telinga tanpa ada perantara merupakan suatu hal yang beresiko mengakibatkan pencemaran suara.
Saat berada di rumah, telinga kita diisi oleh riuhnya suara binatang peliharaan, suara AC, televisi, dan banyak hal lain. Saat berada di jalan, kita juga mendengar keriuhan lain: proyek pembangunan, suara kendaraan umum yang menderu dan musik yang dinyalakan orang lain. Di kabin mobil, kapal laut, dan pesawat terbang menimbulkan suara mesin yang menderu. Juga di pabrik atau tempat kerja yang memakai kipas angin besar, kompresor, trafo, dan pompa. Di hotel, perkantoran, atau apartemen biasanya saluran udaranya mengeluarkan bising.
Sebagai contoh beberapa kebisingan yang menyebabkan kebisingan yang kekuatannya diukur dengan dB atau desibel adalah
-          Orang ribut/silat lidah  = 80 dB
-          Suara kereta api/krl      = 95 dB
-          Mesin motor 5 pk         = 104 dB
-          Suara petir                    = 120 dB
-          Pesawat tinggal landas = 150 dB
Tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu (lamanya) kontak. Menurut WHO, tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:
1.      Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada panca indra dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada
ekosistem lain.
2.      Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan
menyebabkan sakit yang kronis.
3.      Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya
sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam
lingkungan.

2.3  Dampak Pencemaran Lingkungan Hidup terhadap Kehidupan Manusia
1.      Punahnya Spesies
Polutan sangat berbahaya bagi biota yang berada pada perairan maupun daratan. Berbagai jenis hewan mengalami keracunan, kemudian akan mati. Berbagai spesies hewan memiliki kekebalan yang tidak sama. Ada yang peka, ada pula yang tahan. Hewan muda, larva merupakan hewan yang peka terhadap bahan pencemar. Ada hewan yang dapat beradaptasi sehingga kebal terhadap bahan pencemar, adapula yang tidak. Meskipun hewan beradaptasi, harus diketahui bahwa tingkat adaptasi hewan ada batasnya. Bila batas tersebut terlampaui, hewan tersebut akan mati.
2.      Perkembangan Hama yang Cepat
Penggunaan insektisida yang berlebihan menyebabkan kematian predator. Dengan punahnya predator sehingga serangga hama akan berkembang dengan cepat dan tanpa kendali.
3.      Gangguan Keseimbangan Lingkungan
Punahnya spesies tertentu dapat mengubah pola interaksi di dalam suatu ekosistem. Rantai makanan, jaring-jaring makanan dan aliran energi menjadi berubah. Akibatnya, keseimbangan lingkungan terganggu. Daur materi dan daur biogeokimia menjadi terganggu.
4.      Kesuburan Tanah Berkurang
Penggunaan insektisida mematikan fauna tanah. Hal ini dapat menurunkan kesuburan tanah. Penggunaan pupuk terus menerus dapat menyebabkan tanah menjadi asam. Hal ini juga dapat menurunkan kesuburan tanah. Demikian juga dengan terjadinya hujan asam.
5.      Keracunan dan Penyakit
Orang yang mengkonsumsi sayur, ikan, dan bahan makanan tercemar dapat mengalami keracunan. Ada yang meninggal dunia, ada yang mengalami kerusakan hati, ginjal, menderita kanker, kerusakan susunan saraf, dan bahkan ada yang menyebabkan cacat pada keturunan-keturunannya.
6.      Pemekatan Hayati
Proses peningkatan kadar bahan pencemar melewati tubuh makluk dikenal sebagai pemekatan hayati (dalam bahasa Inggrisnya dikenal sebagai biomagnificition).
7.      Terbentuknya Lubang Ozon dan Efek Rumah Kaca
Terbentuknya Lubang ozon dan terjadinya efek rumah kaca merupakan permasalahan global yang dirasakan oleh semua umat manusia. Hal ini disebabkan karena bahan pencemar dapat tersebar dan menimbulkan dampak di tempat lain.

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Pencemaran lingkungan hidup ialah masuknya zat-zat yang dapat merusak lingkungan hidup manusia. Pencemaran lingkungan dapat terjadi di air, udara, dan tanah. Pencemaran yang terjadi udara meliputi dapat dibagi menjadi: pencemaran lingkungan menurut bentuk (partikel dan gas), menurut tempat (ruangan dan udara bebas), menurut gangguan kesehatan (Iritansia, asfiksia, anetesia, toksis), menurut asal (primer dan sekunder). Pencemaran air meliputi pencemaran di perairan darat, seperti danau dan sungai, serta perairan laut. Sumber pencemaran air, misalnya pengerukan pasir, limbah rumah tangga, industri, pertanian, pelebaran sungai, pertambangan minyak lepas pantai, serta kebocoran kapal tanker pengangkut minyak. Sedangkan pencemaran tanah berasal dari limbah rumah tangga, kegiatan pertanian, dan pertambangan.
Adapun dampak dari pencemaran lingkungan hidup di antaranya: punahnya spesies, perkembangan hama yang cepat, gangguan keseimbangan lingkungan, kesuburan tanah berkurang, keracunan dan penyakit, pemekatan hayati, terbentuknya lubang ozon dan efek rumah kaca, dan masih banyak lagi dampak-dampak yang dapat merugikan kehidupan makhluk hidup.

3.2  Saran
Dalam makalah ini, penulis telah memaparkan beberapa pembahasan mengenai judul tersebut. Akantetapi penulis menyadari akan banyaknya kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, kritik maupun saran sangat diharapkan agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulis pribadi.


DAFTAR PUSTAKA

MITOS YANG BERHUBUNGAN DENGAN ALAM



TUGAS
MITOS YANG BERHUBUNGAN DENGAN ALAM

Mata Kuliah                : Ilmu Alamiah Dasar
Dosen Pengampu        : Drs. Abu Bakar, M.Pd

Disusun oleh:
Nama                           : Herti Gustina
NIM                            : A1B112005
Semester/Kelas            : III/A


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013

 


LEGENDA DANAU KERINCI
Konon menurut cerita Danau Kerinci tidak seperti sekarang ini. Asal muasalnya adalah dari sebuah danau yang sangat besar sehingga diberi nama Danau Gedang. Pada waktu itu Lembah Kerinci belum ada, karena masih tertutup oleh permukaan Danau Gedang tersebut. Ada satu kisah yang menceritakan terjadinya Danau dan Lembah Kerinci sehingga menjadi seperti sekarang ini.
Kisahnya berawal dari dua orang kakak beradik yang tinggal di sebuah rumah di kaki Gunung Kerinci. Mereka yatim piatu. Sang kakak bernama Calungga sedang adiknya bernama Calupat. Sang kakak berwatak pemberang, kasar dan berani. Sedangkan adiknya berwatak halus serta cerdas. Sifat itu dipengaruhi oleh sepasang mustika yang diwariskan oleh orang tua mereka. Calungga mendapat batu merah, sedang Calupat mendaoat batu putih. Batu merah akan membuat pemiliknya menjadi pemberani dan memiliki kesaktian yang luar biasa, sementara batu putih membawa keberuntungan dan kejayaan bagi pemiliknya.
Pada suatu hari ketika sedang berburu di hutan, Calungga menemukan sebuah telur yang sangat besar, sebesar kelapa dengan kulit yang putih berkilau. Karena tertari Calungga membawa telur tersebut pulang. Calupat juga merasa heran pada telur yang dibawa kakaknya, Calupat mengusulkan untuk menyimpan telur itu selama tiga hari sambil ia meminta petunjuk pada dewa. Tetapi sewaktu Calupat sedang memancing, telur tersebut direbus oleh Calungga yang sudah tidak tahan ingin merasakan telur tersebut. Kemudian telur itu dimakan Calungga sampai habis dan tertidur kekenyangan.
Ketika adiknya pulang, Calungga terbangun dengan rasa haus yang luar biasa sihingga diminumnya semua air yang ada di rumah, tetapi rasa haus itu tidak hilang meski badannya sudah gembung oleh air. Calungga lalu pergi ke sungai dan minum sepuasnya sehingga tubuhnya makin menggelembung dan memanjang. Keesokan harinya Calupat pergi ke sungai dan mendapati kakaknya  sudah berubah wujud. Di badan Calungga muncul sisik-sisik sebesar nyiru dengan warna berkilauan. Saat itu Calungga masih terus minum air sehingga sungai di sekitar Gunung Berapi banyak yang kering. Konon sungai-sungai itu sekarang disebut Sungai Kering.
Ketika melihat Calupat, Calungga segera menyuruh adiknya pergi jauh. Karena takut, Calupat pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan sedih harus berpisah dengan kakak yang disayanginya itu. Tak lama kemudian, Calungga yang sudah berubah wujud menjadi seekor naga mengucapkan mantera-mantera. Seketika bumi bergetar, hujan badai turun dengan disertai guntur yang menggelegar. Air bah muncul dimana-mana sehingga menggenangi tempat naga Calungga. Naga memutarkan badannya lalu berenang menuju Danau Gedang. Konon tempat naga mengisar dan memutar badannya sekarang dikenal sebagai Danau Bento. Sedangkan sisik naga yang terkelupas berubah menjadi ikan yang bernama Si Mambang Bulan yang dianggap sebagai nenek moyang ikan Semah.
Tiga musim berlalu, Calupat kembali ke Danau Gedang ia berdiri dan memanggil-manggil kakaknya. Seketika dari air muncul seekor naga yang tak lain adalah kakaknya. Sambil menangis gembira Calupat menceritakan keinginannya untuk pergi ke tempat dimana banyak orang tinggal (suatu desa). Calungga mengabulkan keinginan adiknya, ia menggendong Calupat dipunggungnya lalu berenang mengarungi danau hingga sampai ke sungai sempit tempat keluarnya air danau dan tidak cukup untuk badannya yang besar. Namun dengan kesaktian Naga Calungga menjebol sungai tersebut sambil berenang menuju hilir hingga tiba di sebuah negeri di pinggir sungai. Di tempat itu Calupat kemudian menetap. Beberapa tahun kemudian karena kepandaian dan sifatnya yang baik ia menjadi pemimpin di negeri tersebut. Naga Calungga sendiri setelah mengantar adiknya lalu menyelam ke dalam sungai dan pergi entah kemana.
Sementara itu karena saluran pelepasan jebol oleh Naga Calungga, air Danau Gedang melimpah sehingga permukaan danau surut dan terbentuklah dataran luas yang sekarang dengan Dataran Kerinci. Danau Gedang yang tersisa berubah nama menjadi Danau Kerinci dan sungai tempat keluarnya Naga Calungga adalah sungai yang dikenal sebagai Sungai Batang Merangin.



LEGENDA TELAGA WARNA KAWASAN PUNCAK
Dahulu kala di kawasan puncak tepatnya di lereng Gunung Lemo komplek pegunungan Mega Mendung terdapat sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Kutatanggeuhan. Nama kerajaan ini berasal dari kata Kuta yang berarti tempat dan Tanggeuhan yang berarti andalan. Kerajaan ini sering disebut Kerajaan Kemuning Kewangi. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja yang arif dan bijaksana bernama Prabu Swarnalaya. Beliau didampingi  oleh permaisuri yang baik hati dan bersifat keibuan bernama Ratu Purbamanah.
Dalam masa kepemimpinan Prabu Swanalaya, kerajaan ini mengalami masa keemasannya. Negeri ini terkenal damai, subur, makmur dan tenteram. Tak ada satupun keluarga yang kekurangan sandang, pangan maupun papan. Walaupun demikian nampaknya Sang Prabu dan Permaisuri belum merasa bahagia karena setelah bertahun-tahun membina hubungan suami istri, mereka belum dikaruniai seorang anak. Berbagai upaya telah mereka lakukan seperti meminum minuman tradisional, konsultasi dengan dukun beranak, dan berbagai usaha lainnya, namun tak kunjung berhasil.
Hingga pada suatu hari, Sang Prabu memutuskan untuk bertapa (semedi) memohon bantuan Yang Maha Kuasa. Setelah sekian lama beliau bersemedi dengan khusuk, maka  pada suatu hari beliau mendengar suara gaib yang berkata “Wahai cucuku Prabu Swarnalaya, apakah yang engkau inginkan? Mintalah kepada Tuhan-Mu!”
“Hamba ingin sekali memiliki seorang anak”, harap Sang Prabu.
“Kalau begitu pulanglah!”, jawab suara itu.
Tidak lama kemudian setelah peristiwa itu terjadi, Sang Permaisuri dinyatakan hamil. Sembilan bulan sepuluh hari, kemudian lahirlah seorang puteri yang diberi nama Nyi Mas Gilang Rukmini, adapula yang menyebutnya Nyi Mas Ratu Dewi Kencana Wungu Kuncung Biru.
Kehadiran Sang Puteri disambut meriah dengan mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam sebagai ungkapan kegembiraan yang tidak terhingga. Berbagai hadiah dan bingkisan berdatangan dari berbagai kerajaan termasuk dari warga Kerajaan Kutatanggeuhan sendiri. Semakin dewasa Sang Puteri semakin menampakkan kecantikannya. Dan sebagai puteri tunggal, tak heran bila kedua orang tuanya beserta warga  kerajaannya sangat memanjakannya.
Menginjak usia ke-17, kecantikan Sang Puteri tidak ada duanya di seluruh tanah Pasundan. Dalam perayaan hari ulang tahunnya yang ke-17, Puteri Gilang Rukmini menginginkan agar setiap helai rambutnya dihiasi emas permata. Mendengar keinginan Sang Puteri, seluruh warga dari berbagai pelosok negeri ingin menyumbangkan sebagian hartanya agar keinginan Sang Puteri dapat terwujud. Karena kearifannya, maka Sang Prabu menyarankan agar harta-harta sumbangan tadi disimpan dan dipergunakan untuk kepentingan umum. Untuk memenuhi keinginan Sang Puteri, beliau hanya mempergunakan sebagian harta tersebut untuk dijadikan perhiasan yang indah. Perhiasan tersebut dibuat oleh seorang Empu yang sangat ahli. Dengan kemampuannya, Sang Empu membuat sebuah kalung yang sangat indah.
Ketika saatnya tiba, datanglah berbondong-bondong warga Kerajaan Kutatanggeuhan untuk menyaksikan acara ulang tahun Sang Puteri. Pada acara tersebut, Sang Prabu langsung menyerahkan hadiah ulang tahun yang berupa kalung buatan Empu kepada Sang Puteri. Pemberian hadiah tersebut diwarnai dengan sorak-sorai gembira warga. Namun apa yang terjadi, setelah kalung diberikan Sang Puteri bukannya menerima dengan senang hati, ia malah melemparkannya hingga putus dan bercerai-berai. Menyaksikan peristiwa tersebut sontak semua hadirin membisu dan diam terpaku. Dalam kebisuan dan keheningan itu terdengarlah tangisan Permaisuri dan seluruh warga kerajaan terutama kaum istri yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata melihat sikap Sang Puteri. Mereka bertanya-tanya mengapa Puteri tidak mau menerima hadiah tersebut.
Pada saat yang bersamaan timbullah suatu keajaiban. Bumi bergoncangdan dari permukaan tanah keluarlah air yang semakin lama semakin membesar sehingga membentuk sebuah danau atau telaga. Danau itu semakin lama semakin meluas sehingga menenggelamkan Kerajaan Kutatanggeuhan beserta segala isinya. Dari dasar telaga memancarkan cahaya berwarna-warni yang diduga berasal dari kalung yang bercerai-berai. Karena itulah danau tersebut dinamakan Telaga Warna.



LEGENDA LEMBAH HARAU
Dahulu Lembah Harau merupakan lautan. Pembentukan Lembah Harau terbentuk sejak kisah berikut ini. Suatu hari Raja Hindustan berlayar bersama istri dan anaknya, Putri Sari Banilai. Perjalanan tersebut dalam rangka selamatan atas pertunangan putrinya dengan seorang pemuda Hindustan bernama Bujang Juaro. Sebelum berangkat, Sari Banilai bersumpah dengan tunangannya, apabila ia ingkar janji maka ia akan berubah menjadi batu dan apabila Buajng Juaro yang ingkar janji maka ia akan berubah menjadi ular. Namun sayangnya, dalam perjalanan kapal tersebut terbawa oleh gelombang dan terdampar pada sebuah selat (tempat tersebut dinamakan Lembah harau). Kapal tersebut tersekat oleh akar yang melintang pada dua buah bukit hingga akhirnya rusak. Agar tidak karam, kapal itu ditambatkan pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggiran bukit (bukit tersebut dinamakan Bukit Jambu). Batu tempat tambatan kapal itu sekarang dinamakan Batu Tambatan Perahu.
Setelah terdampar, raja Hindustan bersama dengan keluarganya disambut oleh Raja yang memerintah Harau pada waktu itu. Lama kelamaan, karena hubungan baik yang terjalin. Raja Hindustan ingin menikahi putrinya dengan pemuda setempat bernama Rambun Paneh. Untuk kembali ke negeri Hindustan pun tidak memungkinkan lagi. Ia tidak tahu sumpah yang telah diucapkan Sari Banilai dengan tunangannya, Bujang Juaro. Tidak berapa lama kemudian, Rambun Paneh dan Sari Banilai pun menikah.
Waktu terus berjalan dan dari perkawinan tersebut lahirlah seorang putra. Suatu hari, sang kakek, Si Raja Hindustan membuatkan mainan untuk cucunya. Sewaktu asyik bermain, mainan tersebut jatuh ke dalam laut. Anak tersebut menangis sejadi-jadinya. Ibunya, Putri Sari Banilai tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk mengambilkan mainan tersebut. Sungguh malang, ombak datang menghempaskan dan menghimpit tubuhnya pada dua batu besar. Sari Banilai sadar bahwa ia telah ingkar janji pada tunangannya dahulu, Bujang Juaro. Dalam keadaan pasrah, ia berdoa pada Yang Maha Kuasa supaya air laut jadi surut. Ia juga berdoa agar peralatan rumah tangganya didekatkan padanya. Dan ia berdoa seandainya ia membuat kesalahan ia rela dimakan sumpah menjadi batu. Tidak lama berselang, perlahan-lahan tubuh Putri Sari Banilai pun berubah menjadi batu.


ASAL MULA TERJADINYA GEMPA
Dahulu kala ketika zaman kerajaan, ada seorang janda beranak dua, laki-laki dan perempuan. Pada waktu itu Danau Bratan belum ada. Singkat cerita, Sang ibu mempunyai hubungan dengan siluman ular besar atau ular naga yang berdiam di dalam lumbung padi dekat rumahnya. Lama kelamaan sang anak mulai menaruh kecurigaan karena setiap pulang dari hutan ibunya selalu naik ke lumbung.
Pada suatu hari, ketika ibunya pergi ke hutan, mereka naik ke lumbung. Di dalam lumbung dilihatnya ada tumpukan telur yang ukurannya lebih besar dari telur ayam. Di tengah tumpukan telur tersebut terdapat sebuah telur aneh. Telur tersebut kemudian diambil dan dimasak, lalu dimakan oleh anaknya yang laki-laki.
Seketika wujud kakaknya berubah menjadi ular. Karena kuatir akan menimbulkan keributan di dalam kampung, mereka pergi ke hutan mencari ibu mereka. Lalu oleh seorang adik, kakaknya tersebut digendong lari ke dalam hutan. Di dalam hutan, mereka bertemu dengan ibunya yang sedang menjalin kasih dengan seekor ular naga. Lalu marahlah mereka, karena menganggap gara-gara naga tersebutlah si kakak menjadi seperti itu. Ditantangnya ular naga tersebut berkelahi. Akhirnya sang kakak yang telah berubah wujud menjadi ular berhasil mengalahkan ular naga tersebut. Namun sayangnya, ibu mereka juga turut meninggal dalam perkelahian tersebut.
Setelah itu mereka berjalan sampai ke arah Bukit Lesung. Sesampainya di sana, sang kakak berpikir bahwa dia harus masuk ke perut bumi, sebab dia telah menjadi naga, yaitu Naga Gombang. Agaradiknya tidak kaget, dia lalu menyuruh adiknya mengambil air dengan keranjang. Tujuannya agar ketika dia masuk ke perut bumi, adiknya tidak melihat dan kaget.
Ketika adiknya sibuk mengambil air dengan keranjang tersebut, sang kakak langsung masuk ke dalam kawah gunung. Sesampainya sang adik dari mengambil air, menyadari bahwa kakaknya telah tidak berada di tempat itu lagi. Kakaknya telah masuk ke perut bumi. Sang kakak berkata, “Jangan kau tangisi, kakakmu memang sudah taksirnya berada di bawah perut bumi ini.” Sesampainya di bawah, sang kakak yang telah menjadi ular naga tersebut melingkari tubuhnya seperti ular yang sedang tidur.
Konon katanya, kalau sang kakak gelisah ingin tau kabar adiknya di atas, dia akan bergerak yang mengakibatkan bumi menjadi bergoyang yang disebut sebagai gempa. Karena itulah ketika terjadi gempa, masyarakat Bali akan berteriak “idup, idup” sambil membunyikan kentongan untuk memberitahu sang kakak bahwa adiknya masih hidup di atas.


ASAL-USUL DANAU TOBA
Dahulu kala di sebuah desa di wilayah Sumatera hidup seorang petani bernama Toba. Ia adalah seorang petani yang ulet dalam bekerja walaupun lahan yang digarapnya tidaklah luas. Dari bertani, ia dapat memenuhi kebutuhannya. Sebenarnya, usia petani tersebut telah matang untuk menikah, akantetapi ia tetap memilih untuk hidup sendirian.
Di suatu pagi yang cerah ketika Toba sedang memancing ikan di sungai. “Mudah-mudahan hari ini aku bisa mendapatkan ikan yang besar”, gumam Toba dalam hati.
Selang beberapa saat setelah kailnya di lempar, akhirnya kail tersebut mulai menampakkan pertanda bahwa umpannya sedang di lahap ikan. Ia pun segera menarik kailnya. Toba pun bersorak kegirangan melihat ikan yang didapatinya cukup besar. Ia takjub melihat warna sisik-sisik ikan tersebut yang sangat indah. Sisik ikan tersebut berwarna kuning emas kemerah-merahan dan kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang sangat menakjubkan.
“Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku.” Toba terkejut mendengar suara yang berasal dari ikan tersebut hingga ikan itu terlempar ke tanah. Beberapa saat kemudian, ikan tersebut berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita.
“Bermimpikah aku?”, gumam si petani.
“Jangan takut Pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata”, kata gadis itu. “Namaku Puteri. Aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu”, kata gadis tersebut seolah mendesak.
Toba dengan yakinnya itupun mengangguk. Kemudian Toba dan gadis tersebut pun menikah dan menjadi sepasang suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri adalah dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar, maka akan terjadi petaka yang maha dahsyat.
Sesampainya di desa, gemparlah penduduk desa melihat gadis yang cantik jelita bersama Toba.
“Dia mungkin bidadari yang turun dari langit”, gumam salah satu dari mereka.
Toba merasa sangat bahagia dan tenteram bersama gadis tersebut. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan sangat tekun dan ulet. Karena ketekunannya tersebut, mereka hidup dengan tanpa kekurangan. Banyak orang iri dan menyebarkan sangkaan buruk tentang keberhasilan dari usaha mereka.
“Aku yakin Toba memelihara makhluk halus!” kata salah seorang dari mereka.
Hal itu pun terdengar sampai ke telinga Toba dan Puteri. Namun mereka tidak patah semangat dan tersesinggung. Mereka malah menjadi semakin giat dalam bekerja.
Setahun kemudian, kebahagian Toba dan Puteri terlengkapi dengan lahirnya seorang bayi laki-laki buah perkawinan mereka. Bayi tersebut diberi nama Samosir. Kebahagian tersebut tidaklah membuat mereka lupa diri.  Samosir tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak yang manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya bisa dimakan bertiga dapat ia lahap sendirian.
Lama kelamaan, Samosir membuat ayahnya semakin jengkel. Jika disuruh membantu orang tuanya bekerja, ia selalu menolak. Isterinya selalu mengingatkan Toba agar selalu bersabar dengan ulah anaknya.
“Ya, aku akan sabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!”, kata Toba kepada istrinya.
“Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda memang seorang suami dan ayah yang baik”, puji Puteri kepada suaminya.
Memang benar kata orang bahwa kesabaran itu ada batasnya. Hal ini telah dialami oleh Toba. Pada suatu hari, Samosir mendapat tugas untuk mengantarkan makanan dan minuman ke sawah tempat ayahnya bekerja. Tetapi Samosir tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Toba yang telah lama menunggu kedatangan anaknya sambil menahan haus dan lapar pun akhirnya pulang ke rumah. Alangkah marahnya sang ayah melihat Samosir sedang asyik main bola. Ia sangat marah dan langsung menjewer kuping anaknya.
“Anak tidak tau diuntung! Tak tahu diri! Dasar anak ikan!”, umpat Toba tanpa sadar telah melanggar pantangan tersebut.
Setelah kata-kata itu terlontar, seketika itu juga anak dan istrinya hilang tanpa jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras. Desa-desa di sekitar itupun terendam oleh luapan air yang sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Danau itupun akhirnya dinamakan sebagai Danau Toba, sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama Pulau Samosir.