Kamis, 11 Desember 2014

SRI SUMARAH, BAWUK DAN PARA PRIYAYI



MAKALAH
SRI SUMARAH, BAWUK DAN PARA PRIYAYI

Dosen Pengampu:
Drs. H. Agus Salim, M.Pd

Disusun oleh:
Kelompok 5
1.    Dani Somdani    A1B112029
2.    Fitri Lestari          A1B112025
3.    Herti Gustina      A1B112005
4.    Teja Pratama       A1B112003


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013


KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih serta Maha Penyayang. Dengan seizin Allah SWT. akhirnya makalah yang kami beri judul Sri Sumirah, Bawuk dan Para Priyayi dapat terselaikan tepat pada waktunya.
Kemudian ucapan terima kasih kami haturkan kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini baik berupa sarana dan prasarana maupun berupa ide-ide supaya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini membahas mengenai strukturalisme dalam dongeng Sri Sumarah, Bawuk dan para Priyayi yang dikarang oleh Umar Kayam. Di dalam makalah ini juga membahas mengenai unsur mitos dalam karya sastra tersebut. Hal ini dirasa patut untuk dipelajari bagi mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia sebagai penunjang dalam pembelajaran sastra.
Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Bila ada kekurangan, maka kritik maupun saranlah yang kami harapkan supaya dapat kita pelajari dan perbaiki bersama.
Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

_, April 2013
Penyusun

Kelompok 5
i
 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat Penulisan............................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 3
2.1 Dongeng dari Umar Kayam sebagai Mitos........................................... 3
2.2 Analisis Struktural Dongeng Umar Kayam.......................................... 5
2.3 Struktur Dongeng Umar Kayam............................................................. 8
2.4 Nilai Jawa, Nalar Jawa dan Umar Kayam............................................ 9
BAB III PENUTUP............................................................................................ 11
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 11
3.2 Saran.......................................................................................................... 12
ii
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 13


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Berbeda dengan analisis mengenai dongeng Bajo sebelumnya, dalam menganalisis dongeng Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi digunakan penggabungan antara analisis struktural Lévi-Strauss dengan pendekatan hermeneutik yang ditunjuk oleh Clifford Geertz (1973) yaitu perspektif struktural-hermeneutik.
Kelemahan dari hasil analisis antropologi hermeneutik adalah tingginya unsur subyektivitas peneliti dalam menafsirkan suatu fenomena, sehingga hampir segala macam tafsir dimungkinkan, sebagaimana tampak dalam berbagai analisis tafsiriah (interpretive) para ahli antropologi atas mitos, rituil, dan berbagai fenomena budaya lainnya. Hal ini memang sangat mungkin terjadi karena dalam antropologi hermeneutik sebuah tafsir atas suatu fenomena apapun wujudnya dibangun di atas elemen-elemen tafsir yang umumnya memang bersifat sangat subyektif, namun tidak disadari kesubyektifan oleh si penafsir. Akibatnya sulit bagi kita untuk menentukan tingkat kebenaran sebuah tafsir (jika kebenaran semacam itu memang ada).
Kelemahan semacam itu tentunya akan dapat diatasi jika kita berhasil menggabungkannya dengan analisis hermeneutis, karena melalui telaah hermeneutislah kita akan dapat memperoleh kembali ‘daging’ dari fenomena yang kita pelajari. Dengan menggabungkan cara analisis struktural dan pemahaman hermeneutis inilah saya berharap kita akan dapat memahami karya-karya Umar Kayam dari sudut pandang yang berbeda dengan yang sudah biasa diambil oleh para peneliti sastra di Indonesia pada umumnya, serta dapat menghasilkan sebuah tafsir yang lebih utuh, lebih holistik.

1.2  Rumusan Masalah
Agar tidak terjadi penyimpangan atau kerancuan terhadap masalah yang dibahas dalam makalah ini, maka dibutuhkan rumusan masalah sebagai batasan-batasan terhadap pembahasan dalam makalah. Adapun rumusan masalah dalam makalah ini di antaranya sebagai berikut.
1.    Dongeng dari Umar Kayam sebagai Mitos;
2.    Analisis Struktural Dongeng Umar Kayam;
3.    Struktur Dongeng Umar Kayam;
4.    Nilai Jawa, Nalar Jawa dan Umar Kayam.

1.3  Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu agar baik pembaca maupun penulis pribadi dapat mengetahui dan memahami strukturalisme dalam dongeng Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi sebagai suatu mitos. Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun bagi penulis pribadi untuk penunjang pembelajaran dan untuk memperluas wawasan dan pemahaman mengenai sastra Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Dongeng dari Umar Kayam sebagai Mitos
Kisah pribadi Umar Kayam menunjukkan bahwa ceritera-ceritera pendek dan panjang yang ditulisnya ketika itu merupakan perwujudan dari kebingungannya menghadapi situasi di pertengahan tahun 60-an tersebut. Boleh dikatakan bahwa ceritera-ceritera tersebut juga merupakan hasil dari upayanya untuk menjelaskan setidaknya pada dirinya sendiri terntang situasi tersebut.
Karya-karya Umar Kayam dapat diperlakukan seperti mitos adalah gaya dari cara penulisannya sendiri. Sebagaimana diakui oleh Umar Kayam, empat ceritera ini berbeda dalam cara ataupun gaya penulisannya dengan ceritera-ceritera pendeknya dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhatan. Kalau dalam Seribu Kunang-Kunang, Umar Kaya lebih cenderung untuk menulis satu reportase, maka dalam empat ceritera tersebut dia tidak lagi ingin berdiri sebagai penulis dan pengamat yang mengembil jarak ketika memaparkan hasil pengamatannya. Dia ingin lebih melibatkan dirinya sebagai seorang Umar Kayam yang memiliki tafsir-tafsirnya sendiri atas apa yang dilihatnya, dan kemudian memaparkan tafsir-tafsir tersebut dalam ceritera. Gaya reportase ternyata telah membuatnya bosan karena dalam reportase unsur-unsur tafsir yang berasal dari dirinya sebagai penulis mungkin harus dikekang untuk tidak tampil.
Dengan paradigma penulisannya yang baru, Umar Kayam kemudian berusaha untuk menampilkan dirinya sebagai penulis yang memberikan interpretasi terhadap apa yang dilihat dan dialaminya. Jadi, sewaktu menulis dongeng-dongeng Musim Gugur, Bawuk, Kimono Biru dan Sri Sumarah, tidak lagi mengambil jarak, akan tetapi telah melibatkan diri di tengah peristiwa itu sebagai aktor yang membuat “ interpretasi”.
Dalam menulis dongeng-dongeng tersebut, Umar Kayam memiliki tujuan yang berbeda dengan sewaktu dia menulis ceritera-ceritera pendeknya dalam Seribu Kunang-Kunang di Manhattan. Ceritera-ceritera Musim Gugur kembali di connecticut, Kimono Biru, Sri Sumarah dan Bawuk merupakan dongeng-dongeng (a) sebuah upaya untuk memahami peristiwa dahsyat di Indonesia di tahun 1965, (b) Umar kayam mengambil posisi sebagai “Aktor yang membuat interpretasi.
Kemiripan antara dongeng orang Jawa dari Umar Kayam dengan etnografi keluarga Puerto Rico dari Oscar Lewis, apa yang dipaparkan oleh Umar Kayam tentang proses penulisan ceritera-ceriteranya mengingatkan pada pandangan Claude Lévi-Strauss, mengenai mitos dalam ulasannya tentang mitos-mitos orang Indian dari Amerika Selatan.
Dalam salah satu bukunya Lévi-Strauss mengatakan bahwa kehadiran mitos dalam kehidupan manusia adalah untuk mengatasi atau memecahkan berbagai kontradiksi empiris yang tidak terpahami oleh nalar manusia. Agar dapat memahami kontradiksi tersebut, nalar manusia kemudian mengindahkan kontradiksi-kontradiksi ini ke tataran simbolis dengan cara sedemikian rupa sehingga elemen-elemen yang kontradiktif kemudian dapat diotak-atik dan terciptalah kemudian sebuah sistem simbol yang tertata rapi dan apik.
Melalui sistem simbol semacam inilah manusia kemudian memandang, menafsirkan, dan memahami realitas empiris sehari-hari, sehingga realitas yang tampak kontradiktif, amburadul, dan tak terpahami lantas juga tampak tertata apik dan rapi, tidak mengandung kontradiksi ataupun hal-hal yang tidak masuk akal. Jadi, lewat mitos manusia pada dasarnya menciptakan ilusi-ilusi bagi dirinya bahwa segala sesuatu itu logis, masuk akal. Di situ mitos menjadi semacam tirai nalar (yang sadar atau tidak) menentukan cara manusia memandang, memahami dan menafsirkan kehidupan sehari-hari.
2.2 Analisis Struktural Dongeng Umar Kayam
Ketika lévi-Strauss mengatakan bahwa karya-karya sastra tidak atau kurang dapat dianalisis secara struktural, hal ini tampaknya berangkat dari hasil pengamatannya bahwa bagian-bagian suatu karya tidak lagi tersusun secara linear, sebagaimana yang umumnya terlihat pada mitos-mitos Indian dari Amerika Selatan. Sebaliknya bagian-bagian tersebut bisa di bolak-balik karena digunakannya teknik kilas balik atau (flash back) oleh si penulis ketika bercerita. Ini membuat analisis struktural yang menuntut adanya penempatan ceriteme-ceriteme secara sintakmatis, menjadi agak lebih sulit.
Dari analisis berbagai ceriteme terlihat adanya episode-episode yang menunjukkan perjalanan hidup tokoh-tokoh tertentu. Tafsir dan analisis atas episode serta struktur dari ceriteme inilah kemudian dapat memberikan jawaban atas pertanyaan tentang siapa yang tidak harus dan harus menjadi korban dalam peristiwa gestapu 1965 di Indonesia menurut ceritera Umar Kayam. Telaah yang lebih mendalam atas tokoh-tokoh itu ternyata juga dapat membuka dimensi-dimensi baru tentang dongeng tersebut, sebagaimana terlihat di bagian akhir tulisan ini.
a.    Episode Latar Belakang Tokoh
Beberapa ceriteme yang ada dalam Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi dapat dirangkum dalam sebuah episode yang berjudul latar belakang tokoh. Latar belakang tiga tokoh (Tun, Bawuk dan Hari) ini memperlihatkan berbagai persamaan dan perbedaan yang menguatkan kesan bahwa masing-masing tokoh merupakan transformasi dari tokoh lain.
Transformasi pada ceritema tersebut kita temukan pada oposisi berpasangan dan elemen-elemen yang menyatukan pasangan tersebut. Dalam ceriteme jenis kelamin misalnya T dan B yang perempuan beroposisi dengan H yang laki-laki, tetapi dalam ceriteme keluarga, T dan H yang merupakan anak tunggal beroposisi dengan B, yang merupakan anak bungsu. Di lain pihak dalam ceriteme ekonomi B dan H yang kaya beroposisi dengan T yang miskin, sedang ceriteme posisi dalam keluarga kemudian menyatukan T, B, dan H yang saling beroposisi dan berpasangan dalam berbagai ceriteme sebelumnya.

b.    Episode Kehidupan Remaja
Pada episode ini ditemukan kembali ceriteme-ceriteme yang memperlihatkan variasi dari sebuah tema. Ada berbagai persamaan dan perbedaan yang memisahkan dan menyatukan tokoh yang satu dengan yang lain. Dalam masa remaja ini Tun yang berasal dari priyayi miskin yang tinggal di sebuah kecamatan mempunyai orientasi kehidupan orang di kota. Dia ingin menggapai kehidupan orang-orang kaya di kota. Disini T berlawanan dengan B dan H yang berasal dari keluarga priyayi kaya namun simpati sosial mereka justru pada wong cilik.
Dan disini terlihat lagi oposisi dan penyatuan. Ceriteme sifat-sifat individual menyatukan ketiga tokoh di atas, namun dalam ceriteme orientasi kehidupan tampak oposisi antara B da H terhadap T, sedang dalam ceriteme pendidikan masing-masing berbeda dengan yang lain namun ceriteme selanjutnya menyatukan kembali ketiga tokoh ini.
Ceriteme kehidupan menyatukan T, B, dan H karena mereka semua ternyata sama-sama hidup di antara dua dunia yakni dunia tradisi Jawa dan dunia pendidikan modern, sedang ceriteme kehamilan mempertentangkan H dengan T dan B tetapi ceriteme pernikahan menyatukan T dengan H  dan mempertentangkan mereka  dengan B. T dihamili dengan pacarnya Yos sebelum menikah, sedang H menghamili gadis, pacarnya juga sebelum menikah. Ceriteme jodoh menyatukan kembali T dengan B dan mempertentangkan mereka dengan H. Namun ceriteme pilihan kemudian menyatukan ketiga-tiganya, bukan pilihan orangtua sebagaimana sering terjadi dalam keluarga Jawa lama.

c.    Episode Kehidupan Keluarga Dan Politik
Dari episode ini kita melihat kembali persamaan dan perbedaan pada ceriteme-ceriteme yang membentuknya yang memperlihatkan variasi dari sebuah tema. Namun bebeda dengan ceriteme-ceriteme sebelumnya yang hanya menyangkut tiga tokoh, dalam episode ini sebagian ceriteme mencantumkan tokoh-tokoh pasangan T, B, dan H dan merupakan ceriteme tentang kegiatan tokoh-tokoh baru dalam organisasi PKI.
Ceriteme aktivitas menyatukan semua tokoh, tetapi ceriteme keanggotaan mempertentangkan B dan H dengan T dan yang lainnya karena B dan H bukanlah anggota PKI. Ceriteme pengetahuan memperlawankan H dengan T dan B. Namun ceriteme kegiatan mempertentangkan H dengan B, sedangkan T merupakan unsur pendengar karena T melakukan kegiatan kesenian dan diskusi politik, sedang B hanya melakukan kegiatan diskusi politik dan H hanya melakukan kegiatan kesenian.

d.    Episode Pelarian
Pada ceriteme kepergian, T dan B sangat jelas oposisinya terhadap H. Kalau T dan B pergi bersama suami, H tidak pergi dengan calon istrinya. Namun dalam ceriteme pamitan B dan H ganti beroposisi dengan T, karena T berpamitan kepada orang tuanya sebelum pergi demikian juga halnya dalam ceriteme penitipan karena T menitipkan anaknya kepada ibunya, sedangkan B dan H tidak. Selanjutnya dalam ceriteme penyerahan B berlawanan dengan T dan H karena B kemudian dibiarkan pergi oleh ibunya mencari suaminya lagi, sedangkan T dan H diserahkan kepada yang berwajib.
Pada ceriteme tentang kematian Y, H, dan G tanpa adanya perbedaan-perbedaan namun disini terlihat suatu peralihan yang bertahap. Selanjutnya ceriteme perlawanan menyatukan tokoh G dan Y yang mati tanpa mengadakan perlawanan dan mempertentangkan mereka dengan tokoh H yang mati dengan melakukan perlawanan. Oposisi ini kemudian diredakan lagi oleh ceriteme jumlah anak dan kelahiran anak.

e.    Episode Akhir Kisah
Di sini terlihat berbagai relasi homologi transformasi oposisi antara toko yang satu dengan yang lain. Pada ceriteme penjara, T dan H yang dipenjara beroposisi dengan B yang bisa bebas pergi dengan suaminya. T dan H juga beroposisi lagi dengan B dalam ceriteme pemindahan. Namun ceriteme tempat menyatukan B dan T sekaligus mempertentangkannya dengan H karena H tetap berada dirumah sendiri, sedang T dan B berada di kota lain. Ceriteme-ceriteme selanjutnya memperlihatkan serangkaian transformasi dari pengalaman-pengalaman tokoh T, B, dan H yang membedakan nasib masing-masing di akhir cerita.
Rantai sintakmatis dan para dikmatis ceriteme-ceriteme di atas sangat jelas menunjukkan adanya berbagai variasi pada sebuah tema yang mengandung di dalamnya homologi, oposisi, inversi, dan transformasi dari pengalaman-pengalaman tokoh.

2.3 Struktur Dongeng Umar Kayam
Dalam menguraikan berbagai episode yang dialami oleh tokoh-tokoh T, B dan H telah menempatkan mereka secara sinkronis (paradigmatis) dan diakronis (sintagmatis).
Secara diakronis urutan episode tersebut adalah sebagai berikut: latar belakang tokoh- kehidupan remaja- kehidupan keluarga- dan politik- pelarian- akhir kisah. Urutan episode sejarah kehidupan tersebut menunjukkan tahap-tahap mulai terlepasnya tokoh-tokoh T, B dan H dari keluarga inti mereka. Puncak aktifitas kehidupan mereka terjadi dalam episode “kehidupan keluarga dan politik “.
Atas dasar ceriteme dan episode yang telah diungkapkan di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan berkenaan dengan tokoh-tokoh T, B, dan H. Pertama-tama mereka ini adalah anak-anak yang cerdas yang memiliki tempat khusus dalam keluarga mereka, keluarga priyayi Jawa. Dalam hubungan anak dan orang tua mereka menenpati tempat yang istimewa. T dan H adalah anak-anak tunggal sehingga perhatian orang tua terhadap mereka tidak harus dibagi kepada anak-anak yang lain, tokoh B biarpun bukan anak tunggal namun dia merupakan anak bungsu perempuan yang istimewa dalam pandangan orang tuanya. Liminalitas budaya dari T, B dan H tercermin dari bagian-bagian ceritera berikut. Mengenai T aspek yang di tonjolkan oleh pengarang adalah aspek kebangsaan, yaitu peralihan dari Jawa ke Indonesia.
Tentang B aspek yang mencuat adalah aspek keagamaan, yaitu antara islam dan kafir yang dalam istilah Jawa disebut “ abangang “. Pada tokoh H aspek keJawaan adalah aspek yang ditampilkan pengarang untuk liminalitas tokoh ini yaitu antara priyayi dan wong cilik.
Dari simpulan-simpulan ini kita dapat mengatakan bahwa tokoh T, B, H adalah individu-individu yang tidak biasa dalam jagad sosial dan budaya mereka, yakni jagad para posisi mereka sebagai individu-individu yang “tidak harus” menjadi korban peristiwa gestapu dalam konteks dongeng tentang mereka.

2.4 Nilai Jawa, Nalar Jawa dan Umar Kayam
Dilihat dari perspektif keilmuan, secara metodologis, Umar Kayam sama sekali tidak melakukan hal yang aneh ataupun ganjil. Yang tidak lazim adalah bahwa jawaban atas pertanyaan yang dikemukakannya diberikan dalam bentuk sejumlah ceritera dengan struktur “sejarah kehidupan” yang tersembunyi, dan “sejarah” ini di banyak tempat ditambahi dengan “karangan”, dengan bumbu imajinasi, yang memang tidak berdasarkan pada realitas empiris.
Dalam posisi ini Umar Kayam lantas tidak sepenuhnya berada di dunia ilmu tetapi juga tidak sepenuhnya di dunia sastra, dunia seni. Dia menempatkan dirinya di antara dua bidang yang oleh banyak orang dipisahkan secara ketat. Posisi Umar Kayam ini mirip dengan posisi tokoh-tokoh T, B dan H, dalam ketiga dongengya, simpati Umar Kayam yang ditunjukkan pada tiga tokoh ini dalam dongengnya ditulisnya. Mungkin merupakan sebuah proyeksi dari situasi dirinya sendiri dalam kehidupan di tanah airnya Indonesia.
Jika dikaitkan dengan posisi Umar Kayam yang ilmuan dan seniman berada di tengah berarti berkarya dengan menyatukan dua hal yang berbeda: ilmu dan seni, menyatukan dongeng dan etnografi. Sri Sumarah, Bawuk, dan Para Priyayi adalah dongeng yang sekaligus juga etnografi.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam makalah ini menerapkan cara analisis struktural seperti yang ditunjukkan oleh Lévi-Strauss dan analisisnya tentang mitos-mitos Indian dari Amerika Selatan.
Beberapa hal yang pantas dicatat dari hasil analisis di atas antara lain adalah: pertama, karya-karya sastra Umar Kayam yang diulas di sini ternyata memiliki benang-benang ceriteme yang terjalin satu sama lain sedemikian rupa sehingga karya-karya tersebut tampak sebagai jumlah variasi yang bergerak di sekitar sebuah tema. Tema tersebut adalah kisah tentang keluarga-keluarga priyayi Jawa beberapa anggotanya terlibat PKI sehingga mereka “harus” dan “ tidak harus“ , karena terjadinya peristiwa gestapu 1965.
Kedua, dalam beberapa karya Umar Kayam tersebut tersembunyi struktur-struktur tertentu yang “menjelaskan” mengapa beberapa tokoh di situ jatuh ke dalam lubang-lubang nasib mereka. Struktur-struktur tersebut adalah struktur “sejarah kehidupan” (life history) dan struktur “segitiga tegak” (aprraid three angel) dari tokoh-tokoh tersebut. Kedua struktur ini juga mencerminkan prinsip-prinsip nalar orang Jawa dalam memandang, menafsirkan dan memahami dunia seputar mereka. Prinsip-prinsip tersebut adalah keselarasan atau harmoni, kesinambungan dan kesatuan. Tiga prinsip ini terlihat dengan jelas dalam cara Umar Kayam menjalin benang-benang ceriteme menjadi satu dalam tiga dongeng etnografisnya.
Ketiga, kebebasan pengarang yang biasa dianggap sebagai sebuah kenyataan yang tak terbantah, ternyata tidak selamanya benar. Kebebasan Umar Kayam dalam menulis ceritera, menjalin  ceriteme, memilih kata-kata, ternyata merupakan sebuah kebebasan yang berada dalam suatu bingkai tertentu, suatu struktur nalar tertentu yang bersifat nirsadar. Struktur tersebut membatasi gerak kreatifitas tanpa disadari.
Keempat, nilai Jawa Sakmadia, tokoh mitis (mythical figure) Semar, sosok nyata Umar Kayam, dan tokoh dongeng etnografis Tun, Bawuk dan Hari dapat ditafsirkan sebagai perwujudan prinsip nalar Jawa yang selalu berusaha menyeimbangkan dan menyatukan elemen-elemen yang berlawanan pada tataran nilai, mitos, individu, dan hasil karya individu. Dalam bahasa strukturalisme tokoh-tokoh Tun, Bawuk, dan Hari adalah transformasi dari tokoh Umar Kayam. Tokoh Umar Kayam adalah transformasi-transformasi dari tokoh Semar dan tokoh adalah transformasi dari nilai sakmadia.

3.2 Saran
Sri Sumarah, Bawuk dan Para Priyayi merupakan salah satu dongeng karya Umar Kayam. Dalam dongeng tersebut mengandung struktur, mitos, nilai dan nalar Jawa. Dalam makalah ini, penulis telah memaparkan beberapa pembahasan mengenai judul tersebut. Akantetapi penulis menyadari akan banyaknya kekurangan baik dalam penulisan maupun dalam penyusunan makalah ini. Untuk itu, kritik maupun saran sangat diharapkan agar makalah ini menjadi lebih baik lagi. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca maupun penulis pribadi.


DAFTAR PUSTAKA
Ahimsa-Putra, S.H. 2001. Strukturalisme Lévi-Strauss: Mitos dan Karya. Yogyakarta: Galang Press.

PROSES MEMBACA DI PERPUSTAKAAN

TUGAS
PROSES MEMBACA DI PERPUSTAKAAN

Mata Kuliah                : Membaca
Dosen Pengampu        : Drs. Aripuddin, M.Hum

Disusun oleh:
Nama                    : Herti Gustina
NIM                      : A1B112005
Semester/Kelas     : II/A


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013

 


1.        Proses membaca di perpustakaan
Dalam melakukan kegiatan membaca di perpustakaan, hal-hal yang harus kita lakukan ialah sebagai berikut.
1)      Sebelum kita melakukan kegiatan membaca di perpustakaan, ada baiknya tas atau segala sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam kegiatan membaca dititipkan di tempat penitipan barang yang terdapat di dalam perpustakaan bagian depan.
2)      Hal kedua yang perlu dilakukan sebelum memulai kegiatan membaca di perpustakaan ialah mengisi buku pengunjung serta memperlihatkan kartu tanda anggota perpustakaan kepada petugas perpustakaan.
3)      Kemudian, untuk mempermudah dalam pencarian buku di perpustakaan, maka digunakan sistem DDC yaitu buku-buku diurutkan berdasarkan angka yang ditempelkan di rak buku. Dengan melihat angka tersebut kita dapat dengan mudah mendapatkan buku yang kita inginkan atau yang dicari.
4)      Setelah itu, kita telah dapat melakukan kegiatan membaca di perpustakaan. Dengan syarat, tidak melakukan keributan atau mengganggu pengunjung perpustakaan lainnya.
5)      Apabila kegiatan membaca telah selesai, buku yang telah dibaca diletakkan kembali ke tempat semula atau bisa melakukan peminjaman dengan syarat:
a)      Memperlihatkan buku yang hendak dipinjam beserta kartu perpustakaan kepada petugas perpustakaan.
b)      Batas waktu peminjaman adalah 7 hari.
c)      Apabila buku yang dipinjam terlambat dikembalikan, maka dikenakan denda sebesar Rp300/hari untuk satu buku.
6)      Setelah kegiatan membaca selesai dilaksanakan, maka barang atau tas yang telah dititipkan bisa diambil kembali.


Bagan Proses Membaca di Perpustakaan
-
 


-     Memperlihatkan buku yang dipinjam dan kartu perpustakaan
-     Batas peminjaman 7 hari
-     Terlambat mengembalikan buku diberi sanksi berupa denda Rp300/hari untuk 1 buku


2.        Buku yang dibaca
Judul buku           : Membaca sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Penulis                  : Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan
Penerbit                : Angkasa Bandung
Tempat terbit        : Bandung

3.        Isi daftar isi buku
DAFTAR ISI
Kata Pengantar........................................................................................ iii
Bab Satu: Tinjauan Umum
1.1     Keterampilan Berbahasa..................................................................... 1
1.1.1   Hubungan antara berbicara dan menyimak............................... 1
1.1.2   Hubungan antara menyimak dan membaca.............................. 2
1.1.3   Hubungan antara berbicara dan membaca................................ 3
1.1.4   Hubungan antara ekspresi lisan dan ekspresi tulis.................... 4
1.2     Membaca............................................................................................ 6
1.2.1   Pengertian batasan membaca.................................................... 7
1.2.2   Tujuan membaca....................................................................... 9
1.2.3   Membaca sebagai suatu keterampilan....................................... 10
1.2.4   Aspek-aspek membaca.............................................................. 11
1.2.5   Mengembangkan keterampilan membaca................................. 14
1.2.6   Tahap-tahap perkembangan membaca...................................... 17
Bab Dua: Membaca Nyaring
2.1     Pengertian........................................................................................... 22
2.2     Keterampilan-Keterampilan yang Dituntut dalam Membaca
Nyaring............................................................................................... 24
2.3     Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring................................... 25
Bab Tiga: Membaca dalam Hati
3.1     Pengantar............................................................................................ 29
3.2     Membaca Ekstensif............................................................................ 31
3.2.1   Membaca survei........................................................................ 31
3.2.2   Membaca sekilas....................................................................... 32
3.2.3   Membaca dangkal..................................................................... 34
3.3     Membaca Intensif............................................................................... 35
3.4     Keterampilan yang Dituntut pada Membaca dalam Hati................... 37
Bab Empat: Mambaca Telaah Isi
4.1     Pendahuluan....................................................................................... 39
4.2     Membaca Teliti................................................................................... 39
4.2.1   Membaca paragraf dengan pengertian...................................... 40
4.2.2   Membuat catatan...................................................................... 45
4.2.3   Dalam kelas............................................................................... 53
4.2.4   Menelaah tugas......................................................................... 54
4.3     Membaca Pemahaman........................................................................ 56
4.3.1   Standar kesastraan.................................................................... 56
4.3.2   Resensi kritis............................................................................. 59
4.3.3   Drama tulis................................................................................ 61
4.4     Membaca Kritis.................................................................................. 89
4.4.1   Memahami maksud penulis....................................................... 91
4.4.2   Memanfaatkan kemampuan membaca dan berfikir kritis......... 92
4.4.3   Memahami organisasi dasar tulisan........................................... 93
4.4.4   Menilai penyajian pengarang.................................................... 95
4.4.5   Menerapkan prinsip-prinsip kritis pada bacaan sehari-hari....... 99
4.4.6   Meningkatkan minat membaca................................................. 102
4.4.7   Prinsip-prinsip pemilikan bahan bacaan.................................... 105
4.4.8   Membaca majalah..................................................................... 113
4.5     Membaca Ide...................................................................................... 116
4.5.1   Pembaca yang baik tahu mengapa dia membaca...................... 117
4.5.2   Pembaca yang baik memahami apa yang dibacanya................. 117
4.5.3   Pembaca yang baik harus menguasai kecepatan membaca....... 118
4.5.4   Pembaca yang baik harus mengenal media cetak..................... 119
Bab Lima: Membaca Telaah Bahasa
5.1     Pendahuluan....................................................................................... 120
5.2     Membaca Bahasa................................................................................ 120
5.2.1   Memperbesar daya kata............................................................ 121
5.2.2   Mengembangkan kata-kata kritik............................................. 130
5.3     Membaca Sastra................................................................................. 138
5.3.1   Bahasa ilmiah dan bahasa sastra............................................... 138
5.3.2   Gaya bahasa.............................................................................. 140
Daftar Bacaan.......................................................................................... 145

4.      Baca suatu sub-sub bab atau pokok bahasan
Bab Tiga
MEMBACA DALAM HATI
3.1     Pengantar
Pada 2.1 telah disinggung sepintas kilas bahwa pada saat membaca dalam hati, kita hanya mempergunakan ingatan visual (visual memory), yang melibatkan pengaktifan mata dan ingatan. Tujuan utama membaca dalam hati (silent reading) adalah untuk memperoleh informasi. Setelah meninggalkan bangku sekolah, mayoritas pelajar akan sedikit sekali membaca bersuara, membaca nyaring, tetapi membaca dalam hati. Walaupun para ahli berbeda pendapat mengenai jangka/jumlah waktu yang akan dipergunakan untuk membaca dalam hati di sekolah, namun semua sependapat bahwa lebih banyak waktu harus diberikan untuk itu bila para pelajar meningkat dari kelas rendah ke kelas yang lebih tinggi. Latihan-latihan pada membaca dalam hati haruslah dimulai semenjak anak-anak sudah dapat membaca sendiri; dan pada tahap sang anak haruslah dilengkapi dengan bacaan tambahan, yang penekanannya diarahkan pada keterampilan menguasai isi bacaan, dan dengan demikian memperoleh serta memahami ide-ide dengan usahanya sendiri. Harus disadari benar-benar bahwa keterampilan membaca dalam hati merupakan kunci bagi semua ilmu pengetahuan. Bila seseorang dapat membentuk konsep-konsep serta sikap-sikap pribadi, maka hal itu berarti bahwa dia telah memperluas kesatuan-kesatuan pikirannya serta memperoleh dasar pendapat, keputusannya. Dia akan menguasai cerita-cerita dan uraian-uraian sebagai suatu keseluruhan yang dalam kegiatan membaca nyaring kini hanya dapat memahami fragmen-fragmen yang lepas-lepas saja. Pada membaca dalam hati ini sang anak mencapai kecepatan dalam pemahaman frase-frase, memperkaya kosa katanya, dan memperoleh keuntungan dalam hal keakraban dengan sastra yang baik. Setelah membaca dalam hati, sang guru dapat menyuruh serta mendorong para pelajar mengutarakan yang telah mereka baca, dan hal ini memudahkan pengujian pertumbuhan daya pemahaman dan apresiasi mereka. (Cole 1950: 244-245)
Sebagian terbesar dari kegiatan membaca dalam masyarakat selama kita hidup adalah kegiatan membaca dalam hati. Dibanding dengan membaca nyaring, maka membaca dalam hati ini jauh lebih ekonomis, dapat dilakukan di segala tempat. Kita sering melihat orang membaca dengan asyiknya dalam bus, kereta api, di kafetaria, di tempat tidur, dan seterusnya tanpa mengganggu orang lain. Ruang baca yang terdapat dalam perpustakaan umum sebenarnya berarti ruang baca dalam hati; setiap orang dapat membaca tanpa mengganggu orang lain.
Dalam kehidupan yang sebenarnya di tengah-tengah masyarakat, setiap anggota masyarakat akan membaca bahan-bahan yang sesuai dengan selera/pilihannya masing-masing, tanpa paksaan dari pihak lain. Membaca secara perorangan menurut selera masing-masing ini disebut personalized reading. Kenyataan ini menuntut peningkatan pengajaran cara membaca serupa ini di sekolah-sekolah (lebih-lebih di Amerika Serikat). Pengajaran membaca perorangan atau personalized reading instruction merupakan suatu falsafah pengajaran, merupakan suatu pendekatan terhadap organisasi kelas. Berdasar atas konsep bahwa setiap anak, setiap orang harus tahu mencari sendiri, memilih sendiri, melangkah sendiri, maju sendiri, maka program membaca perorangan ini merupakan suatu bagian dari program keseluruhan yang mungkin mencakup program dasar, pengajaran perorangan dan pendekatan pengalaman bahasa. (Barbe and Abbott 1975:23)
Demikianlah dalam membaca perorangan ini “how to read” haruslah disejajarkan atau diimbangi dengan perkembangan “love for reading” dan menuntut agar membaca dalam hati dilaksanakan seefektif mungkin. Program pengajaran membaca perorangan menganut suatu falsafah yang mengatakan “You learn to read by reading” atau “Anda belajar membaca dengan (jalan) membaca.” (Barbe and Abbott 1975:26)
Dalam garis besarnya, membaca dalam hati dapat dibagi atas:
a)      Membaca ekstensif; dan
b)      Membaca intensif.
Berikut ini akan dibicarakan satu persatu secara terperinci.
3.2     Membaca Ekstensif
Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Obyeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Pengertian atau pemahaman yang bertaraf relatif rendah sudahlah memadai untuk ini, karena memang begitulah tuntutannya dan juga karena bahan bacaan itu sendiri memang sudah banyak serta berlebih-lebihan, seperti halnya dengan laporan-laporan surat kabar. Nama atau etiket itu menyatakan bahwa orang-orang yang mempergunakannya tidaklah mengenai keterampilan-ketampilan aktual yang berbelit-belit, yang rumit, tetapi dengan efek-efek yang dihasilkan oleh pekerjaan ketrampilan-ketrampilan tersebut; dengan kata lain suatu keakraban, suatu familiaritas, sekalipun bukan keakraban yang begitu mantap, dengan isi bahan bacaan yang menjadi tujuan dan tuntutan kegiatan membaca ekstensif adalah untuk memahami isi yang penting-penting dengan cepat dan dengan demikian membaca secara efisien dapat terlaksana. Hal ini juga merupakan salah satu alat yang dapat dimanfaatkan oleh seorang orang asing yang hendak mempelajari sesuatu tanpa dia sendiri pergi bermukim ke negara asal tersebut.
Membaca ekstensif ini meliputi pula:
a)      Membaca survei (survey reading);
b)      Membaca sekilas (skimming); dan
c)      Membaca dangkal (superficial reading).
(Broughton cs 1978:92)

3.2.1     Membaca survei
Sebelum kita mulai membaca maka biasanya kita meneliti terlebih dahulu apa-apa yang akan kita telaah. Kita mensurvei bahan bacaan yang akan dipelajari, yang akan ditelaah, dengan jalan:
a)      Memeriksa, meneliti indeks-indeks, daftar kata-kata yang terdapat dalam buku-buku;
b)      Melihat-lihat, memeriksa, meneliti judul-judul bab yang terdapat dalam buku-buku yang bersangkutan;
c)      Memeriksa, meneliti bagan, skema, outline buku yang bersangkutan. Kecepatan serta ketepatan dalam mensurvei bahan bacaan ini sangat penting; hal ini turut menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam studinya. Latar belakang pandangan serta ilmu pengetahuan seseorang turut menentukan tepat atau tidaknya, cepat atau lambatnya mensurvei bahan bacaan yang diinginkan. Memang ada benarnya ucapan orang-orang tua yang mengatakan bahwa permulaan yang baik sudah merupakan setengah dari hasil yang hendak dicapai.

3.2.2        Membaca sekilas
Membaca sekilas atau skimming adalah sejenis membaca yang membuat mata kita bergerak dengan cepat melihat, memperhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi, penerangan. Kalau kita tidak tahu bagaimana cara membaca sekilas dan kapan harus melakukannya, maka kita akan menghadapi kesulitan dalam mengikuti serta menyelesaikan bacaan yang diinginkan.
Ada tiga tujuan utama dalam membaca sekilas ini, yaitu:
a)      Untuk memperoleh suatu kesan umum dari suatu buku atau artikel, tulisan singkat;
b)      Untuk menemukan hal tertentu dari suatu bahan bacaan;
c)      Untuk menemukan/menempatkan bahan yang diperlukan dalam perpustakaan. (Albert [et al] 1961a:30)
Berikut ini kita perbincangkan satu-persatu secara selayang pandang.
3.2.2.1    Untuk memperoleh kesan umum
Bila kita ingin memperoleh suatu kesan umum dari suatu kesan umum dari sesuatu buku non-fiksi (sejarah, biografi, ilmu pengetahuan, seni, dan sebagainya) dengan cepat maka kita dapat melakukannya dengan jalan meneliti halaman judul, kata pengantar, daftar isi, dan indeks. Kita akan memperoleh suatu pandangan yang lebih baik kalau kita mengikuti langkah ini dengan membuka-buka halaman buku tersebut dengan cepat, melihat pada bab dan anak bab, gambar, peta, skema, dan diagram. Dengan cara ini kita dapat mempelajari sifat hakekat dan jangkauan buku tersebut, susunan atau organisasinya, dan sikap umum sang penulis serta pendekatannya terhadap bahan atau subyek pembicaraan.
Kita dapat memperoleh kesan umum dari suatu novel dengan jalan mengadakan pandangan sekilas serta menaruh perhatian tertentu pada bagian tertentu sambil jalan. Kalau tidak tertarik hanya pada plot atau sifat umum novel tersebut, maka kita memperoleh suatu ide yang baik dari/mengenai buku tersebut dalam tempo setengah jam atau kurang.
Kita dapat membaca sekilas suatu artikel dalam majalah atau rencana dalam surat kabar dengan cara berikut ini. Bacalah pertama sekali paragraf awal dan paragraf akhir. Kedua paragraf ini biasanya menyatakan kepada kita pokok masalah artikel tersebut dan sikap serta pandangan umum sang penulis terhadap pokok masalah. Sesudah itu telitilah secara sekilas pilihan tersebut untuk mencari kalimat-kalimat judul serta petunjuk-petunjuk lainnya mengenai hal-hal penting yang diperbincangkan itu.

3.2.2.2       Untuk menemukan hal tertentu
Kita kerap kali membaca sekilas untuk mendapatkan fakta atau hal tertentu: misalnya nomor pemain pujaan pada permainan sepak bola, hari mangkatnya seorang pahlawan, jumlah angka kematian lalu lintas, dan sebagainya. Orang yang teliti hampir terus menerus membaca sekilas dalam kehidupan sehari-hari.
Petunjuk-putunjuk berikut ini akan dapat menolong kita dalam usaha mendapatkan informasi yang tepat dengan cepat.
a)      Tentukan dengan jelas hal atau fakta apa yang hendak dicari atau sediakan pertanyaan yang akan dijawab.
b)      Siapkan/ingat kata atau kata-kata yang paling tepat dipakai untuk menunjuk hal tersebut.
c)      Bila kita mencari informasi dalam suatu buku, baiklah kita melihat apakah kata atau detail tersebut tercantum dalam indeks. Kalau tidak ada, carilah di bawah subyek yang lebih luas yang mungkin mencakup bahan/subyek tersebut.
d)     Liriklah setiap halaman dengan cepat, hanya untuk mencari kata atau detail yang diingini.

3.2.2.3       Untuk menemukan bahan dalam perpustakaan
Dalam pencarian bahan yang diperlukan di perpustakaan, kita pun membaca sekilas kartu katalog untuk mendapatkan buku-buku yang sesuai; kita membaca sekilas melalui Pembimbing Pembaca untuk menemukan artikel-artikel majalah.
Bila kita sudah menemukan sebuah buku yang mungkin berguna, maka selanjutnya lihatlah pada daftar isi dan daftar kata-kata untuk menentukan apakah buku tersebut memuat hal-hal yang kita kehendaki. Kalau kita telah mendapatkan suatu majalah yang kira-kira memberi harapan, liriklah halaman demi halaman dengan cepat mencari bahan yang ada sangkut pautnya dengan pokok atau topik pembicaraan kita. Apabila kita telah menemui apa yang kita ingini dengan cara membaca sekilas, ubalah cara membaca kita. Bacalah bahan itu dengan teliti, catatlah hal-hal yang penting serta fakta-fakta penunjang.
Kalau kita membiasakan diri membaca sekilas dengan tepat dan cerdas maka kita akan kagum betapa banyaknya informasi yang dapat kita peroleh dalam waktu yang singkat. Ambillah buku, majalah, dan surat kabar, lalu bacalah sekilas. Biasakanlah diri kita, mendapatkan kesan umum dari buku-buku baru dan melihat apakah kita ingin membacanya dengan teliti atau tidak.
Memang harus disadari benar-benar bahwa membaca sekilas merupakan suatu ketrampilan yang sangat berfaedah kalau tidak disalahgunakan. Seperti juga halnya bahwa kita tidak membaca sesuatu buku kata demi kata, maka dalam membaca sekilas pun kita tidak perlu membaca segala sesuatu, tetapi yang penting-penting saja. Dalam penerapannya yang baik, membaca sekilas menuntut suatu keaktifan dan keseksamaan untuk mengetahui apa yang dicari serta bagaimana cara menghubungkan apa yang telah ditemui dengan apa-apa yang telah kita ketahui sebelumnya. (Albert [et al] 1961a:30-32)

3.2.3        Membaca dangkal
Membaca dangkal atau superficial reading pada dasarnya bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang dangkal yang bersifat luaran, yang tidak mendalam dari suatu bahan bacaan. Membaca superficial ini biasanya dilakukan bila kita membaca demi kesenangan, membaca bacaan ringan yang mendatangkan kebahagiaan di waktu senggang; misalnya cerita pendek, novel ringan, dan sebagainya. Dalam membaca seperti ini tidak dituntut pemikiran yang mendalam seperti halnya membaca karya-karya ilmiah. Dapat dilakukan dengan santai tetapi menyenangkan. (Broughton [et al] 1978:92)
Demikianlah telah kita perbincangkan secara sekilas tiga jenis membaca yang termasuk ke dalam kelompok membaca ekstensif.
Berlainan dengan membaca intensif, maka teknik yang dipergunakan dalam membaca ekstensif ini jelas sangat berbeda. Sebuah cerita pendek, atau satu bab novel, ataupun adegan drama satu babak, disodorkan oleh sang guru agar dibaca oleh para pelajar lalu disuruh melaporkannya secara singkat sebagai suatu kesatuan yang utuh.
Para pelajar dan mahasiswa menyadari bahwa dalam membaca ekstensif ini minat atau perhatiannya diarahkan pada pemahaman keseluruhan terhadap tokoh dan kejadian-kejadian, bukan kepada detail-detail bahasa ataupun isi cerita yang terperinci sampai sekecil-kecilnya.
Membaca ekstensif biasanya lebih banyak dilakukan di luar kelas; tugas-tugas diberikan oleh sang guru beberapa kali secara teratur, dan di dalam kelas diperlukan sekelumit waktu untuk mengecek atau memeriksa apakah para pelajar mengerti ciri-ciri utama cerita tersebut. (Brooks 1964:173)

3.3     Membaca Intensif
Yang dimaksud dengan membaca intensif atau intensive reading adalah studi seksama, telaah teliti, dan penanganan terperinci yang dilaksanakan di dalam kelas terhadap suatu tugas yang pendek kira-kira dua sampai empat halaman setiap hari. Kuesioner, latihan pola-pola kalimat, latihan kosa kata, telaah kata-kata, dikte dan diskusi umum merupakan bagian dan teknik membaca intensif. Teks-teks bacaan yang benar-benar sesuai dengan maksud ini haruslah dipilih oleh sang guru, baik dari segi bentuk maupun dari segi isinya. Para pelajar atau mahasiswa yang berhasil dalam tahap ini secara langsung akan berhubungan dengan kualitas serta keserasian pilihan bahan bacaan tersebut. (Brooks 1964:172-173)
Yang termasuk ke dalam kelompok membaca intensif ini ialah:
a)      Membaca telaah isi (content study reading)
b)      Membaca telaah bahasa (linguistic study reading)
Perlu ditegaskan di sini bahwa setiap istilah membaca intensif menyatakan bahwa bukanlah hakekat ketrampilan-ketrampilan yang terlihat yang paling diutamakan atau yang paling menarik perhatian kita, tetapi hasil-hasilnya; dalam hal ini suatu pengertian, suatu pemahaman yang mendalam serta terperinci terhadap tanda-tanda hitam atau aksara di atas kertas. Biasanya, bahan untuk pemahaman yang terperinci ini berupa teks yang amat singkat. Membaca intensif pada hakekatnya memerlukan teks yang panjangnya tidak lebih dari 500 patah kata (yang dapat dibaca dalam jangka waktu 2 menit dengan kecepatan kira-kira 5 patah kata dalam satu detik). Tujuan utama adalah untuk memperoleh sukses dalam pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola-pola teks, pola-pola simbolisnya; nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang, dan juga sarana-sarana linguistik yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.
Erat berhubungan dengan tingkatan pemahaman ini adalah kecepatan membaca. Jelas sekali terlihat bahwa kecepatan akan menurun kalau kedalaman serta keterperincian pemahaman semakin bertambah, semakin meningkat, tetapi jangan pula kita lupakan bahwa ada faktor-faktor yang lain yang turut campur tangan dalam hal ini. Salah satu di antara faktor-faktor tersebut adalah kejelasan teks bacaan itu sendiri. Faktor lain adalah pengenalan pembaca terhadap isi bahan bacaan. Tentu saja lebih mudah bagi kita menangkap serta memahami isi bacaan yang telah kita alami, kita kenal, kita akrabi. Meskipun demikian, masih mungkin kita mengembangkan kecepatan membaca, dan membaca yang efisien jelas melibatkan kecepatan membaca yang tinggi dengan tingkat pemahaman yang tinggi.
Banyak orang beranggapan bahwa studi dan membaca lambat itu sama, atau paling tidak: dalam studi yang baik, seseorang harus membaca lambat. Perlu ditegaskan di sini bahwa pendapat yang seperti itu sangat keliru. Perlu diingat benar-benar bahwa studi melibatkan beberapa jenis ketrampilan lainnya di samping ketrampilan membaca, dan dapat juga melibatkan beraneka jenis ketrampilan membaca. Seorang siswa/mahasiswa yang baik akan terlebih dahulu mengadakan survei pendahuluan terhadap apa yang akan ditelaahnya; baru kemudian dia membaca subyek yang akan ditelaah; baru kemudian dia membaca, barangkali sebagian dengan membaca sekilas (skimming), sebagian lagi dengan membaca secara intensif untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan apalagi dia telah mencatat jawaban-jawaban yang diinginkan maka pada waktu mendatang berikutnya dia akan meninjau kembali bahan tersebut. Urutan operasi-operasi ini menggambarkan teknik studi yang sudah terkenal dengan nama teknik SQ3R; dan jelas bahwa masih banyak lagi yang terlibat dari pada hanya membaca lambat saja. Maka adalah tugas dan kewajiban setiap guru untuk meningkatkan kecepatan membaca umum para pelajar. Membaca dalam hati yang lancar sungguh sangat berguna bagi setiap orang yang ingin mencapai jenjang setiap pendidikan yang lebih tinggi. (Broughton 1978:92-94)
 Kedua jenis membaca yang termasuk ke dalam kelompok membaca intensif ini akan diperbincangkan pada bab-bab khusus.

3.4     Keterampilan yang Dituntut pada Membaca dalam Hati
Seperti juga halnya membaca bersuara, maka membaca dalam hati pun merupakan suatu kegiatan yang menuntut aneka ragam ketrampilan. Berikut ini kita kemukakan sejumlah ketrampilan yang dituntut pada setiap kelas sekolah dasar khusus pada membaca dalam hati, agar tujuan dapat dicapai.
Kelas I:
a.       Membaca tanpa bersuara, tanpa gerakan-gerakan bibir, tanpa berbisik.
b.      Membaca tanpa gerakan-gerakan kepala.
Kelas II:
a.       Membaca tanpa gerakan-gerakan bibir atau kepala.
b.      Membaca lebih cepat secara dalam hati tinimbang secara bersuara.
Kelas III:
a.       Membaca dalam hati tanpa menunjuk-nunjuk dengan jari, tanpa gerakan bibir.
b.      Memahami bahan bacaan yang dibaca secara diam atau secara dalam hati itu.
c.       Lebih cepat membaca dalam hati daripada membaca bersuara.
Kelas IV:
a.       Mengerti serta memahami bahan bacaan pada tingkat dasar.
b.      Kecepatan mata dalam membaca 3 kata per detik.

Kelas V:
a.       Membaca dalam hati jauh lebih cepat tinimbang membaca bersuara.
b.      Membaca dengan pemahaman yang baik.
c.       Membaca tanpa gerakan-gerakan bibir atau kepala atau menunjuk-nunjuk dengan jari tangan.
d.      Menikmati bahan bacaan yang dibaca dalam hati itu; senang membaca dalam hati.
Kelas VI:
a.       Membaca tanpa gerakan-gerakan bibir; tanpa komat-kamit.
b.      Dapat menyesuaikan kecepatan membaca dengan tingkat kesukaran yang terdapat dalam bahan bacaan.
c.       Dapat membaca 180 patah kata dalam satu menit pada bacaan fiksi pada tingkat dasar.
(Barbe and Abbott 1975:156-167)

5.      Cari kata kunci/ide pokok
Menggunakan ingatan visual dan pengaktifan mata dan ingatan